MAKALAH PELAYANAN KB DAN KESEHATAN REPRODUKSI
MAKALAH PELAYANAN KB DAN KESEHATAN REPRODUKSI
tentang
ASUHAN PADA PEREMPUAN REMAJA DAN PRA NIKAH
Dosen Pembimbing:
Ns. Lisma Evareny, S.Kep, MPH
Disusun Oleh:
SILVIA FITRI YENTI
NIM. 194210412
TINGKAT:
IIB
PRODI DIII KEBIDANAN BUKITTINGGI
POLTEKKES KEMENKES PADANG
TAHUN AKADEMIK 2020/202
KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas Berkat dan Karunia-NYA, saya dapat menyusun dan menyelesaikan Makalah mengenai “ASUHAN PADA PEREMPUAN REMAJA DAN PRA NIKAH”.
Semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi positif dan bermakna dalam proses belajar dan pembelajaran. Dari lubuk hati saya yang terdalam, sangat disadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saya mohon maaf bila ada sesuatu informasi yang salah dan kurang lengkap.
Saya juga mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca mengenai makalah ini, sehingga saya dapat membuat makalah yang lebih baik dikemudian hari.
Pesisir Selatan, 09 September 2020
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 1
Tujuan 1
BAB II PEMBAHASAN
Tumbuh Kembang Remaja 2
Permasalahan pada Masa Remaja 6
Asuhan Remaja Terkait TRIAD KRR 9
Asuhan Kebidanan Pra Nikah 10
BAB III PENUTUP
Kesimpulan 23
Saran 23
DAFTAR PUSTAKA 24
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang pasti terjadi pada manusia dan terus berlangsung sampai dewasa, dalam proses mancapai dewasa, anak harus melalui tahap tumbuh kembang, termasuk tahap remaja.
Tahap remaja adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa yang pada data demografi menunjukan bahwa remaja merupakan populasi yang besar dari penduduk dunia. Menurut WHO (1995) Sekitar seperlima dari penduduk dunia adalah remaja berumur 10-19 tahun.
Masa remaja masa penuh dinamika, Hal ini disebabkan pada fase remaja awal berlangsung bersamaan dengan masa pubertas atau masa perubahan fisik dari masa anak-anak menuju dewasa. Perubahan tersebut mendorong timbulnya isu dan permasalahan dalam fase remaja.
Rumusan Masalah
Bagaimana proses tumbuh kembang remaja?
Apa-apa saja permasalahan pada remaja?
Bagaimana asuhan remaja terkait TRIAD KRR?
Bagaimana asuhan kebidanan pra nikah?
Tujuan
Untuk mengetahui proses tumbuh kembang remaja.
Untuk mengetahui permasalahan pada remaja.
Untuk mengetahui asuhan remaja terkait TRIAD KRR.
Untuk mengetahui asuhan kebidanan pra nikah.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian Tumbuh Kembang Remaja
Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai proses perubahan fisik yang bersifat progresif serta berlangsung dalam periode tertentu, oleh karena itu, sebagai hasil dari pertumbuhan adalah bertambahnya berat, tinggi badan, tulang dan otot-otot menjadi lebih kuat, lingkar tubuh menjadi lebih besar, dan organ tubuh menjadi lebih sempurna.
Sedangkan perkembangan lebih mengacu kepada perubahan pola pikir kearah yang lebih maju. Para ahli psikologi pada umumnya menunjuk pada pengertian perkembangan sebagai suatu proses perubahan yang bersifat progresif dan menyebabkan terjadinya kemampuan dan karakteristik psikis yang sering di kenal dengan istilah “kematangan” (Berk, 1989).
Pengertian Remaja
Masa remaja, menurut Mappiare (1982), berlangsung anatar umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang Remaja dalam Bahasa aslinya disebut adolescence, berasal dari Bahasa latin adolescere yang artinya “tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Pada masa orang-orang purbakala mereka memandang masa remaja tidak berbeda dengan periode lain dalam rentang kehidupan. Anak di anggap sudah dewasa apabila sudah mampu mengadakan reproduksi.
Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence, susungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, social, dan fisik, pandangan ini di dukung oleh Piaget (Hurlock, 1991) yang mengatakan bahwa secara psikologis, remaja adalah suatu usia di mana individu menjadi terintegrasi ke dalam masyarakat dewasa, suatu usia dimana anak tidak merasa bahwa dirinya berada dibawah tingkat orang yang lebih tua melainkan merasa sama, atau paling tidak sejajar.
Remaja juga sedang mengalami perkembangan pesat dalam aset intelektual. Transformasi intelektual dari cara berfikir remaja memungkinkan tidak hanya mampu mengintegrasikan dirinya ke dalam masyarakat dewasa, tapi juga merupakan karakteristik yang paling menonjol dari semua periode perkembangan, remaja sudah tidak termasuk golongan anak-anak tetapi belum dapat untuk masuk ke golongan orang dewasa, remaja ada di antara anak dan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja seringkali dikenal dengan fase “mencari jati diri”.
Karakteristik Pertumbuhan dan Perkembangan Remaja
Perkembangan Biologis
Perkembangan biologis ialah perubahan fisik yang terjadi, pada remaja terlihat saat masa pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta mulai berfungsinya alat-alat reproduksi yang ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi bahas pada laki-laki.
Perkembangan Kognitif
Dalam perkembangan kognitif remaja tidak terlepas dari lingkungan sosial, hal ini menekankan pentingnya interaksi sosial dan budaya.
Perkembangan Sosial
Pencarian identitas diri merupakan tugas utama dalam perkembangan sosial, pencarian identitas diri meliputi, identitas seksual, identitas kelompok, identitas keluarga, identitas pekerjaan, identitas kesehatan, dan identital moral.
Tahap Perkembangan Remaja
Fase Praremaja
Fase praremaja ditandai dengan kebutuhan menjalin hubungan dengan teman sejenis, mrncoba bekerja sama, memecahkan masalah kehidupan sehingga pada fase ini remaja tidak merasa kesepian.
Fase Remaja Awal
Pada masa ini remaja mulai Nampak ketertariakan pada lawan jenis, sehingga remaja mencari sesuatu pola untuk memuaskan dorongan genitalnya.
Fase Remaja Akhir
Pada fase ini remaja sudah mulai berfikir mengenai hak, kewajiban, kepuasan, tanggung jawab kehidupan sebagai masyarakat dan warga negara.
Tugas-Tugas Perkembangan Masa Remaja
Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya meninggalkan sikap dan prilaku kekanak-kanakan serta berusaha untuk mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku secara dewasa. Tugas-tugas perkembangan masa remaja menurut Hurlock (1991) :
Mampu menerima keadaan fisiknya.
Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa.
Mampu membina hubungan baik dengan yang berlainan jenis.
Berusaha mencapai kemandirian emosional.
Berusaha mencapai kemandirian ekonomi.
Mengembangkan keterampilan intelektual.
Memahami nilai-nilai orang dewasa.
Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial
Mempersiapkan diri untuk memasuki perkawinan.
Mempersiapkan berbagai tanggung jawab untuk kehidupan keluarga.
3. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fisik Remaja
Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu,
Sifat jasmaniah yang diwariskan dari orang tuanya, anak yang orang tua nya bertubuh tinggi cenderung lebih lekas menjadi tinggi dari pada anak yang orang tua nya bertubuh pendek.
Kematangan
Secara sepintas, pertumbuhan fisik seolah-olah seperti sudah direncanakan oleh faktor kematangan. Meskipun anak di berikan makanan yang bergizi tinggi, tetapi saat kematangan belum sampai, pertumbuhan akan tetap tertunda, misalnya anak berumur tiga bulan di berikan makanan yang cukup bergizi agar pertumbuhan otot kakinya berkembang sehingga mampu berjalan tetapi hal ini tidak mungkin terjadi sebelum umur anak lebih dari sepuluh bulan.
Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri anak
Kesehatan
Anak yang sering sakit-sakitan pertumbuhan fisiknya akan terhambat.
Makanan
Anak yang kurang gizi makanan pertumbuhannya akan terhambat, sebaliknya cukup gizi pertumbuhannya pesat.
Stimulasi lingkungan
Individu yang tubuhnya sering di latih untuk meningkatkan percepatan pertumbuhannya akan berbeda dengan yang tidak pernah mendapat latihan.
Permasalahan pada Remaja
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis. Permasalahan yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya :
Permasalahan berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik.
Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting, namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Begitu juga, perkembangan fisik yang tidak proporsional. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual.
Permasalahan berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa.
Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Namun ketika si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual, terutama melalui pendidikan di sekolah, maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Begitu juga masa remaja, terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana, menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Tidak bisa dipungkiri, dalam era globalisasi sekarang ini, penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional, sosial, dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya.
Permasalahan berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial, moralitas dan keagamaan.
Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial), yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya, namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya, termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja, khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen, di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri, namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua, terutama secara ekonomis. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi, hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada, jika tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya.
Permasalahan berkaitan dengan perkembangan kepribadian, dan emosional.
Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya.Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.
1. Mengatasi Masalah-Masalah yang Terjadi pada Remaja
Untuk mengatasi masalah-masalah yang ada pada remaja maka telebih dahulu remaja harus mengenal dirinya sendiri. Dalam proses pengenalan diri sendiri itu, perlu didukung oleh orang-orang yang ada di sekitarnya seperti keluarga, guru, dan sebagainya. Ada baiknya juga bila para orang tua berusaha memahami mengenai psikologi sang anak. Hal tersebut akan membantu orang tua untuk lebih memahami keinginan anak sehingga orang tua dapat mengarahkan para remaja lebih baik.
Pemberian contoh yang baik juga memiliki pengaruh yang sangat besar. Pada dasarnya, dalam mencari jati diri para remaja akan membutuhkan panutan dan akan mencari panutan. Oleh karena itu ada baiknya para orang tua mecontohkan hal baik ketimbang hanya menyuruh tetapi tidak memberikan contoh kepada anak remaja.
Remaja juga butuh kebebasan dalam memilih atau beraktifitas. Ada baiknya mereka diberi kebebasan dalam melaksanakan atau melakukan apa yang mereka suka. Namun orang tua harus tetap mengawasi dan memberi batasan-batasan agar anak remaja tidak terjerumus ke perilaku yang salah. Jika bisa jadilah pendengar utama bagi sang anak, dimana sang anak dapat menyampaikan keluh kesah yang ia rasakan kepada orang tua tanpa merasa takut akan dimarahi.
Solusi internal bagi seorang remaja dalam mengendalikan kenakalan remaja ialah:
1. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah
atau diatasi dengan prinsip keteladanan.
2. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur orang-orang dewasa
yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka yang berhasil
memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
3. Adanya motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point
pertama.
4. Remaja menyalurkan energinya dalam berbagai kegiatan positif, seperti
berolahraga, melukis, mengikuti event perlombaan, dan penyaluran hobi.
5. Remaja pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua
memberi arahan dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
6. Remaja membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata
teman sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
Asuhan Remaja Terkait TRIAD KRR
KRR merupakan kepanjangan dari Kesehatan Reproduksi Remaja. Kesehatan Reproduksi Remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem reproduksi (fungsi, komponen dan proses) yang dimiliki oleh remaja baik secara fisik, mental dan sosial.
TRIAD KRR adalah tiga resiko yang dihadapi oleh remaja, yaitu Seksualitas, HIV/ AIDS dan Napza. Seksualitas adalah segala sesuatu yang menyangkut sikap dan perilaku seksual maupun orientasi seksual. HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Sedangkan pengertian HIV adalah virus yang menurunkan sistem kekebalan tubuh manusia.
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immuno Deficiency Syndrome. Sedangkan pengertian AIDS adalah kumpulan dari berbagai gejala penyakit akibat turunnya sistem kekebalan tubuh individu karena HIV. Napza adalah singkatan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya. Sedangkan pengertian Napza adalah zat-zat kimiawi yang dimasukkan kedalam tubuh manusia baik secara oral (melalui mulut), dihirup (melalui hidung) atau disuntik.
Program KRR adalah program untuk membantu remaja agar TEGAR dari resiko TRIAD KRR, dan memiliki status sistem reproduksi yang sehat melalui peningkatan komitmen, pemberian informasi, pelayanan konseling, rujukan medis, dan pendidikan kecakapan hidup. Remaja adalah penduduk laki-laki atau perempuan yang berusia 10-19 tahun dan belum menikah (WHO). Pendidik Sebaya KRR adalah orang yang menjadi narasumber bagi kelompok remaja sebayanya yang telah mengikuti pelatihan Pendidik Sebaya KRR. Konselor Sebaya KRR adalah orang yang dapat memberikan konseling KRR bagi kelompok remaja sebayanya yang telah mengikuti pelatihan konseling KRR. Pemberian informasi KRR adalah suatu proses penyampaian informasi KRR oleh seorang Pendidik Sebaya yang membantu remaja sebayanya dalam memahami kesehatan reproduksi. Konseling KRR adalah suatu proses tatap muka dimana seorang Konselor Sebaya yang membantu remaja sebayanya untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.
Asuhan Kebidanan Pra nikah
Pengertian promosi kesehatan pra nikah
Promosi kesehatan pranikah merupakan suatu proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya yang ditunjukan pada masyarakat reproduktif pranikah. Pelayanan kebidanan diawali dengan pemeliharaan kesehatan para calon ibu.
Remaja wanita yang akan memasuki jenjang perkawinan perlu dijaga kondisi kesehatannya. Kepada para remaja diberi pengertian tentang hubungan seksual yang sehat, kesiapan mental dalam menghadapi kehamilan dan pengetahuan tentang proses kehamilan dan persalinan, serta pemeliharaan kesehatan dalam masa pra dan pasca kehamilan.
Promosi kesehatan pada masa pra kehamilan disampaikan pada kelompok remaja wanita atau pada wanita yang akan menikah. Penyampaian nasehat tentang kesehatan pada masa pra nikah ini disesuaikan dengan tingkat intelektual pada calon ibu. Nasehat atau informasi yang diberikan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti karena bersifat pribadi dan sensitive.
Remaja calon ibu yang mengalami masalah akibat gangguan system reproduksinya harus segera ditangani. Gangguan system reproduksi tidak berdiri sendiri. Gangguang tersebut dapat berpengaruh pada kondisi pisikologi dan lingkungan sosial remaja itu sendiri. Bila masalah kesehatan remaja tersebut sangat kompleks, sebaiknya dikonsultasikan keahli yang relevan atau dirujuk keyunit pelayanan kesehatan yang fasilitasnya yang lebih lengkap. Faktor keluarga juga turut mempengaruhi kondisi kesehatan para remaja yang akan memasuki pintu gerbang pernikahan. Bidan dapat menggunakan pengaruh keluarga untuk memperkuat mental remaja dalam memasuki masa perakwinan dan kehamilan.
Pemeriksaan kesehatan dianjurkan bagi remaja yang akan menikah. Tujuan dari pemeriksaan tersebut adalah untuk mengetahui secara dini kondisi kesehatan para remaja. Jika ditemukan penyakit atau kelainan didalam diri remaja, maka tindakan pengobatan dapat segera dilakukan. Bila penyakit atau kelainan tersebut tidak diatasi, maka diupayakan masalah tersebut tidak bertambah berat atau menular kepada pasangannya. Misalnya remaja penderita penyakit jantung yang sedang hamil harus memeriksakan kesehatannya secara teratur. Remaja yang menderita AIDS harus mengaja pasangannya agar tidak terkena virus HIV dengan menggunakan kondom saat bersenggama bila sudah menikah.
Upaya pemeliharaan kesehatan bagi para calon ibu ini dapat dilakukan melalui kelompok atau kumpulan remaja seperti: karang taruna, pramuka, organisasi remaja, dan sebagainya. Para remaja yang terhimpun dalam organisasi masyarakat perlu diorganisasikan agar pelayanan kesehatan dan kesiapan dalam menghadapi peran sebagai istri dapat dilakukan dengan baik.
Pembinaan kesehatan remaja, terutama remaja wanita, tidak hanya ditujukan hanya pada masalah gangguan kesehatan (penyakit system reproduksi). Fakta perkembangan psikologis dan social perlu diperhatikan juga dalam membina kesehatan remaja. Remaja yang tumbuh kembang secara biologis diikuti dengan perkembangan psikologis dan sosialnya. Alam dan pikiran remaja perlu diketahui di dalam membina kesehatan. Penyampaian pesan kesehatan dilakukan melalui bahasa remaja. Bimbingan terhadap remaja antara lain mencakup hal-hal sebagai berikut.
a. Perkawinan yang sehat.
Remaja dibimbing tentang bagaimana mempersiapkan diri menghadapi perkawinan ditinjau dari sudut kesehatan. Perkawinan bukan hanya sekedar hubungan antara suami dan istri. Perkawinan menghasilkan keturunan. Bayi yang dilahirkan atau keturunan ini diharapkan adalah bayi yang sehat dan direncanakan.
b. Keluarga yang sehat.
Remaja diajarkan tentang keluarga sehat dan cara mewujudkan serta membinanya. Keluarga yang diidamkan (sejahtera) adalah keluarga yang memiliki norma keluarga kecil (jumlah keluarga yang ideal terdiri atas suami, istri, dan dua anak),bahagia, sejahtera, aman, tenteram, disertai rasa ketakwaan kepada Tuhan YME. Keluarga sejahtera juga memiliki kemampuan social ekonomi yang mendukung kehidupan anggota keluarganya serta mampu menabung untuk masa depan. Selain itu, keluarga sejahtera juga dapat membantu dan mendorong peningkatan taraf hidup keluarga lain.
c. Sistem reproduksi dan masalahnya.
Tidak semua remaja memahami system reproduksi manusia. Membicarakan system reproduksi dianggap tabu bagi beberapa kalangan remaja. Penjelasan mengenai perubahan yang terjadi pada system reproduksi pada masa kehamilan, persalinan, dan pascapersalinan perlu diberikan. Penjelasan mengenai perawatan bayi serta gangguan system reproduksi, seperti gangguan menstruasi, kelainan system reproduksi dan penyakit, juga hendaknya diberikan. Penyakit system reproduksi yang dimaksud adalah penyakit-penyakit hubungan seksual, HIV/AIDS, dan tumor.
d. Penyakit yang berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan atau sebaliknya.
Remaja yang siap sebagai ibu harus dapat mengetahui penyakit-penyakit yang memberatkan kehamilan dan membahayakan masa kehamilan atau persalinan. Penyakit yang perlu dan penting dijelaskan sewaktu mengadakan bimbingan, antara lain penyakit jantung, penyakit ginjal, hipertensi, DM, anemia, dan tumor.
e. Sikap dan perilaku pada masa kehamilan dan persalinan.
Perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi pada masa kehamilan dan persalinan. Perubahan sikap dan perilaku dapat mengganggu kesehatan, misalnya pada masa hamil muda terjadi gangguan psikologi seperti benci dengan seseorang (suami) atau benda tertentu. Emosi yang berlebihan dimungkinkan akibat perubahan perilaku. Pada masa persalinan atau pascapersalinan gangguan jiwa juga mungkin terjadi.
Selain hal-hal tersebut masih ada lagi permasalahan remaja dan dikaitkan dengan kesehatan keluarga. Bidan harus dapat memberikan bimbingan sewaktu remaja berkonsultasi atau memberikan penyuluhan. Bila masalah remaja sangat besar, maka dapat dirujuk pada yang lebih ahli. Misalnya, bila remaja merasa ketakutan yang amat sangat dalam mengahadapi kehamilan, remaja dirujuk ke dokter spesialis jiwa atau ke psikolog. Bimbingan remaja juga dilakukan melalui organisasi remaja seperti karang taruna, pramuka, serta organisasi pelajar, mahasiswa, dan pemuda.
2. Persiapan Pranikah
Ada beberapa persiapan yang perlu dihadapi menjelang pernikahan, yaitu persiapan ilmu tentang pernikahan, persiapan mental/psikologis dalam menghadapi pernikahan, persiapan ruhiyyah menjelang pernikahan serta persiapan fisik sebelum menikah.
1. Persiapan Ilmu tentang pernikahan.
Hal yang perlu dipersiapkan adalah memperjelas visi pernikahan. Untuk apa kita menikah. Visi yang jelas dan juga sama antara calon suami dan isteri diharapkan akan melanggengkan pernikahan. Banyak orang yang menikah hanya karena cinta, atau mengikuti tradisi masyarakat. Bisa juga karena malu karena sudah cukup umur tetapi masih belum juga menuju pelaminan. Alasan-alasan seperti ini tidak memiliki akar yang jelas. Bisa juga menjadi sangat rapuh ketika memasuki bahtera rumah tangga, dan akhirnya hancur ketika badai rumah tangga datang menerjang.
2. Persiapan mental/psikologis menghadapi pernikahan.
Pernikahan adalah kehidupan baru yang sangat jauh berbeda dari masa-masa sebelumnya. Dalam pernikahan berkumpul dua pribadi yang berbeda yang berasal dari keluarga yang memiliki kebiasaan yang berbeda. Didalamnya terbuka semua sifat-sifat asli masing-masing. Mempersiapkan diri untuk berlapang dada menghadapi segala kekurangan pasangan adalah hal yang mutlak diperlukan. Begitu juga cara-cara mengkomunikasikan pikiran dan perasan kita dengan baik kepada pasangan juga perlu diperhatikan, agar emosi negatif tidak mewarnai rumah tangga kita.
Di dalam pernikahan juga diperlukan rasa tanggung jawab untuk untuk memenuhi hak dan kewajiban masing-masing. Sehingga setiap anggota keluarga tidak hanya menuntut hak-haknya saja.
Pernikahan merupakan perwujudan dari tim kehidupan kita untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu kerja sama, saling mendukung dalam segala hal sangat diperlukan. Termasuk dalam pendidikan anak. Pernikahan juga merupakan sarana untuk terus menerus belajar tentang kehidupan. Ketika memasuki dunia perkawinan seseorang belajar untuk menjadi bagian dari tim kehidupan. Ketika memiliki anak seseorang belajar untuk mendidik anak dengan cara yang baik. Tidak jarang juga orang tua perlu memaksa diri untuk merubah kebiasaan-kebiasaan buruknya agar tidak ditiru oleh anak. Ketika anak-anak menjelang dewasa orang tua belajar untuk menjadikan anak-anaknya sebagai teman, sebagai bagian dari tim kehidupan yang aktif menggerakkan roda kehidupan, dan seterusnya.
3. Persiapan Ruhiyyah/ spiritual.
Menikah itu ibadah, oleh karena itu seluruh proses yang dilalui dalam pernikahan itu harus dengan nuansa ibadah. Proses sebelum menikah sampai pernikahan itu sendiri juga setelah menikah tidak boleh jauh dari nuansa penghambaan diri kepada Allah. Sebelum menikah peningkatan kualitas diri dan kualitas ibadah mutlak diperlukan. Berdoa kepada Allah untuk mendapatkan suami yang sholih dan anak-anak yang akan menjadi penyejuk mata.
Bergaul dengan orang-orang yang sholih yang dapat menjaga dien kita juga perlu dilakukan. Membaca buku-buku tentang keutamaan pernikahan juga perlu dilakukan untuk menguatkan niat kita dalam menikah. Ketika pinangan datang, ibadah semakin dikencangkan. Terus memohon kepada Allah untuk mendapatkan yang terbaik sebagai pasangan kita. Saat ini, perlu juga kita membersihkan hati agar niat ibadah dalam pernikahan ini tidak menyimpang. Juga menjaga kesucian hubungan kita dengan calon suami sampai datangnya waktu pernikahan sangat diperlukan, agar tidak terjatuh dalam godaan setan. Masa-masa antara meminang dan pernikahan ini sebaiknya dipersingkat agar kebersihan niat dan hubungan kedua insan bisa terjaga
4. Persiapan Fisik
Yang terakhir yang tidak kalah penting dalah mempersiapkan tubuh kita untuk memasuki dunia pernikahan. Mengetahui alat-alat reproduksi wanita dan cara kerjanya sangat penting bagi kita. Memeriksa kesehatan alat-alat reproduksi juga penting agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan setelah menikah. Selain itu juga kita harus mengetahui tentang seks yang sehat. Banyak ornag yang sudah menikah tapi tidak tahu bagaimana berhubungan seks dengan sehat dan menyenangkan bagi masing-masing pasangan. Hal ini penting karena merupakan bagian dari kunci kebahagiaan dalam berumah tangga.
3. Pentingnya Periksa Kesehatan Pra Nikah
Menjelang hari pernikahan semua calon mempelai pasti sibuk mempersiapkan diri memastikan bahwa semua rencana telah tersusun dengan baik. Sayangnya masih banyak dari masyarakat kita yang saking terlalu sibuk mempersiapkan hari H, sampai lupa dengan hal kecil yang mungkin terlihat sepele padahal penting dan besar sekali manfaatnya. Periksa kesehatan pra nikah memang belum umum dilakukan di Indonesia, tetapi tahukah bahwa pemeriksaan ini merupakan salah satu prosedur menjelang pernikahan yang sangat dianjurkan oleh pakar kesehatan
Bila ditinjau secara psikologis, sebenarnya pemeriksaan itu akan dapat membantu menyiapkan mental pasangan. Sedangkan secara medis, pemeriksaan itu sebagai ikhtiar (usaha) yang bisa membantu mencegah hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari sehingga dapat menjadi langkah antisipasi dan tindakan preventif yang dilakukan jauh-jauh hari untuk menghindarkan penyesalan dan penderitaan rumah tangga.
Para ahli abstetri (ilmu kebidanan) dan ginekologi (ilmu keturunan) menyatakan bahwa sebaiknya calon pengantin memeriksakan dirinya tiga bulan sebelum melakukan janji pernikahan. Rentang waktu itu diperlukan untuk melakukan pengobatan jika ternyata salah seorang atau keduanya menderita gangguan tertentu. Jenis pemeriksaan kesehatan pranikah dapat disesuaikan dengan gejala tertentu yang dialami calon pengantin secara jujur, berani dan objektif. Misalnya, pemeriksaan harus dilakukan lebih spesifik jika dalam keluarga didapati riwayat kesehatan yang kurang baik. Namun, jika semuanya lancar-lancar saja, maka hanya dilakukan pemeriksaan standar, yaitu cek darah dan urine.
Untuk cek darah, biasanya diperlukan khususnya untuk memastikan si calon ibu tidak mengalami talasemia, infeksi pada darah dan sebagainya. Dalam pengalaman medis, kadang kala ditemukan gejala anti phospholipid syndrome (APS), yaitu suatu kelainan pada darah yang bisa mengakibatkan sulitnya menjaga kehamilan atau menyebabkan keguguran berulang. Jika ada kasus seperti itu, biasanya para dokter akan melakukan tindakan tertentu sebagai langkah , sehingga pada saat pengantin perempuan hamil dia dapat mempertahankan bayinya.
Hasil analisa data medis mengungkapkan bahwa kasus yang paling banyak terjadi pada calon ibu khususnya di Indonesia adalah terjangkitnya virus toksoplasma. Virus yang bisa mengakibatkan kecacatan pada bayi ini biasanya disebabkan seringnya kaum perempuan mengkonsumsi daging yang kurang matang atau tersebar melalui kotoran atau bulu binatang piaraan. Oleh karena itu, untuk mengetahuinya, agar dapat ditangani Secara dini diperlukan pemeriksaan toksoplasma, rubella, virus cytomegalo, dan herpes yaitu yang sering disingkat dengan istilah pemeriksaan terhadap TORCH.
Demikian pula, pada calon pengantin pria biasanya diperlukan untuk dilakukan pemeriksaan sejumlah infeksi seperti sipilis dan gonorrhea. Selain itu banyak juga dari pengalaman klinis dilakukan pemeriksaan sperma untuk memastikan kesuburan untuk calon mempelai pria. Dalam kapasitas ini, pemeriksaan sperma dilakukan dalam tiga kategori yaitu jumlah sperma, gerakan sperma dan bentuk sperma.
Sperma yang baik menurut para ahli, jumlahnya harus lebih dari 20 juta setiap cc-nya dengan gerakan lebih dari 50% dan memiliki bentuk normal lebih dari 30% . Bila dalam pemeriksaan ditemukan kelainan pada sperma, maka waktu tiga bulan setelah pemeriksaan dianggap sudah cukup untuk melakukan penyembuhan. Demikian halnya bagi calon mempelai wanita, jangka waktu tiga bulan juga dianggap memadai untuk memperbaiki siklus menstruasi calon pengantin wanita yang memiliki masa menstruasi tidak lancar dengan disiplin mengikuti terapi khusus dan intens secara kontinyu.
Pemeriksaan standar menyangkut darah antara lain dilakukan untuk mengetahui jenis resus. Seperti bangsa Asia lainnya, perempuan Indonesia memiliki resus darah positif. Sedangkan bangsa Eropa dan Kaukasia biasanya memiliki resus negatif. Karena itu, pemeriksaan resus untuk pasangan campuran yang berasal dari dua bangsa berbeda sangatlah penting. Resus berfungsi sama dengan sidik jari yaitu sebagai penentu. Setelah mengetahui golongan dara seseorang seperti A, B, O biasanya resusnya juga ditentukan untuk mempermudah identifikasi. Hal itu karena perbedaan resus pada pasangan bisa berdampak fatal saat kehamilan.
Jika ibu memiliki resus positif dan embrio menunjukkan resus negatif, maka biasanya disarankan para ahli medis untuk melakukan pengguguran sejak dini karena tidak mungkin janin akan bertahan hidup secara normal di dalam rahim ibu. Meskipun pasangan ingin tetap mempertahankan janin, nantinya akan gugur juga. Pengalaman ini biasanya di kalangan medis disebut sebagai kasus incompabilitas resus.
Calon pengantin juga sering diminta untuk melakukan pemeriksaan darah anticardiolipin antibody (ACA). Penyakit yang berkaitan dengan hal itu bisa mengakibatkan aliran darah mengental sehingga darah si ibu sulit mengirimkan makanan kepada janin yang berada di dalam rahimnya. Selain itu, jika salah satu calon pengantin memiliki catatan down syndrome karena kromosom dalam keluarganya, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih intensif lagi. Sebab, riwayat itu bisa mengakibatkan bayi lahir idiot.
Adapun suntikan Tetanus Toxoid yang lebih dikenal dengan suntikan TT sebenarnya dimaksudkan untuk mencegah timbulnya tetanus pada luka yang dapat terjadi pada vagina mempelai wanita yang diakibatkan hubungan seksual pertama. Suntikan TT biasanya juga diperlukan dan dianjurkan oleh para medis bagi para ibu hamil di usia kehamilan 5-6 bulan untuk mencegah terjadinya tetanus pada luka ibu ataupun bayi saat proses kelahiran. Sedangkan kekhawatiran adanya manipulasi serum TT pada suntikan yang diganti dengan serum kontrasepsi oleh para medis sebaiknya dihilangkan dan jika terbukti adanya pengalaman sebelumnya atau indikasi kuat mal praktik yang disengaja tersebut, maka dapat dilaporkan para pihak terkait dan yang berwenang, dan hal itu di samping melanggar kode etik kedokteran, juga merupakan suatu tindak pidana.
Jenis Pemeriksaan Kesehatan Pra Nikah Yang Dilakukan Seperti :
Pemeriksaan hematologi rutin dan analisa hemoglobin, untuk mengetahui adanya kelainan atau penyakit darah.
Pemeriksaan urinalisis lengkap, untuk memantau fungsi ginjal dan penyakit lain yang berhubungan dengan ginjal atau saluran kemih, pemeriksaan golongan darah dan rhesus yang akan berguna bagi calon janin.
Pemeriksaan gula darah untuk memantau kemungkinan diabetes melitus.
Pemeriksaan HbsAG untuk mengetahui kemungkinan peradangan hati.
Pemeriksaan VDLR/ RPR untuk mengetahui adanya kemungkinan penyakit sifilis.
Pemeriksaan TORC untuk mendeteksi infeksi yang disebabkan parasit Toxoplasma, virus Rubella dan virus Cytomegalo yang bila menyerang pada perempuan di masa kehamilan nanti.
Mengetahui Rhesus kedua calon mempelai seringkali merupakan hal yang diabaikan, padahal hal tersebut adalah hal yang penting. Kebanyakan bangsa Asia memiliki Rhesus positif, sedangkan bangsa Eropa rata-rata negatif. Terkadang, pasangan suami-isteri tidak tahu Rhesus darah pasangan masing-masing. Padahal, jika Rhesusnya bersilangan, bisa mempengaruhi kualitas keturunan. Jika seorang perempuan (Rhesus negatif) menikah dengan laki-laki (Rhesus positif), bayi pertamanya memiliki kemungkinan untuk ber-Rhesus negatif atau positif. Jika bayi mempunyai Rhesus negatif, tidak ada masalah. Tetapi, jika ia ber-Rhesus positif, masalah mungkin timbul pada kehamilan berikutnya. Bila ternyata kehamilan yang kedua merupakan janin yang ber-Rhesus positif, kehamilan ini berbahaya. Karena antibodi antirhesus dari ibu dapat memasuki sel darah merah janin. Sebaliknya, tidak masalah jika si perempuan ber-Rhesus positif dan si pria negatif. Karena itu sangat penting untuk mengetahui Rhesus kedua calon mempelai.
Manfaat Periksa Kesehatan Pra Nikah:
Dengan melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah kita dapat mengetahui kondisi pasangan serta proyeksi masa depan pernikahan, terutama yang berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi (fertilitas) dan genetika (keturunan), dan Anda juga dapat mengetahui penyakit-penyakit yang nantinya bila tak segera ditanggulangi dapat membahayakan Anda dan pasangan termasuk calon keturunan.
Prosedur Periksa Kesehatan Pra Nikah :
Prosedur yang harus dilakukan sebenarnya tidak berbeda jauh dengan pemeriksaan kesehatan lain biasanya. Anda dan pasangan membuat janji terlebih dahulu dengan dokter spesialis atau dokter umum kemudian setelah melakukan wawancara singkat tentang sejarah kesehatan, Anda dan pasangan wajib melakukan pemeriksaan fisik dan rangkaian tes radiologi dan laboratorium untuk mendeteksi kelainan-kelainan apa saja yang mungkin diderita. Idealnya, pemeriksaan kesehatan pra nikah dilakukan enam bulan menjelang pernikahan. Namun ukuran itu sebenarnya bersifat fleksibel dalam arti kapanpun dapat dilakukan asal pernikahan belum dilangsungkan, agar penyakit-penyakit yang mungkin terdeteksi dapat ditanggulangi terlebih dahulu.
Persiapan Menjelang Pemeriksaan Kesehatan Pra Nikah :
Yang pertama tentunya masalah finansial. Pemeriksaan ini memang memakan biaya lebih. Maka dari itu, setiap pasangan baiknya persiapkan dana lebih dari jauh-jauh hari dan Anda harus ingat bahwa uang yang Anda keluarkan itu merupakan investasi jangka panjang untuk kelangsungan hidup rumah tangga yang akan Anda jalani bersama dengan pasangan. Selain itu, setiap pasangan pun diwajibkan untuk berpuasa mulai pukul 22.00 sehari sebelumnya dan setelah pengambilan darah, Anda dan pasangan bisa menikmati sarapan. Selama berpuasa, setiap pasangan tetap boleh mengonsumsi air putih dan bawalah sedikit contoh feses (tinja) atau urine pagi hari dalam wadah yang bersih. Walaupun setiap pasangan berada dalam kondisi yang sehat, tidak ada salahnya untuk tetap melakukan pemerikasaan kesehatan pra nikah untuk kehidupan pernikahan yang sehat dan jauh dari penyakit.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas bahwa dapat di simpulkan Semua manusia pasti menagalami pertumbuhan dan perkembangan serta mengalami fase remaja yang pada dasar nya di sebut masa transisi antara anak dan orang tua.
KRR merupakan kepanjangan dari Kesehatan Reproduksi Remaja. Kesehatan Reproduksi Remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem reproduksi (fungsi, komponen dan proses) yang dimiliki oleh remaja baik secara fisik, mental dan sosial.
Ada beberapa persiapan yang perlu dihadapi menjelang pernikahan, yaitu persiapan ilmu tentang pernikahan, persiapan mental/psikologis dalam menghadapi pernikahan, persiapan ruhiyyah menjelang pernikahan. Dengan melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum menikah kita dapat mengetahui kondisi pasangan serta proyeksi masa depan pernikahan, terutama yang berkaitan dengan masalah kesehatan reproduksi (fertilitas) dan genetika (keturunan), dan Anda juga dapat mengetahui penyakit-penyakit yang nantinya bila tak segera ditanggulangi dapat membahayakan Anda dan pasangan termasuk calon keturunan.
Saran
Makalah ini diharapkan dapat menambah pustaka atau informasi ilmiah tentang kesehatan reproduksi khususnya asuhan pada remaja dan pra nikah, sehingga dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan bagi masyarakat ataupun mahasiswa.
DAFTAR PUSTAKA
Prof. dr. Soetjiningsih 2004 Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya Jakarta Sagung Seto
Prof. dr. Ali Mohammad dan Prof. dr. Asrori Mohammad 2004 Psikologi Remaja Jakarta Bumi Aksara Hal 9,10,11,21
https://desscriptum.wordpress.com/2016/12/01/remaja-dan-permasalahannya-makalah/
http://dewimasita03.blogspot.com/2015/06/triad-krr.html
Komentar
Posting Komentar